Selasa, 28 April 2009

Bahan Promosi by Yulius Eka Agung Seputra,ST,MSI

BAHAN-BAHAN PROMOSI (POS materials)
Bahan-bahan promosi atau biasa disebut Point of Sale Materials (POS materials) mempunyai bentuk-bentuk yang beragam, diantaranya:

1. LEAFLET (selebaran)
Lembaran kertas cetak yang dilipat menjadi dua halaman atau lebih.

2. FOLDER
Lembaran bahan cetakan yang dilipat menjadi dua seperti map atau buku agar mudah dibawa. Atau bisa juga dilipat dengan gaya concertina sehingga membentuk beberapa halaman terpisah tanpa perlu dipotong. Alasan perlunya folder agar mudah dimasukkan ke dalam amplop untuk diposkan atau dimasukkan ke dalam saku.

3. BROSUR (booklet)
Bahan cetakan yang terdiri dari beberapa halaman yang dijilid sehingga menyerupai buku.

4. KATALOG
Sejenis brosur yang berisi rincian jenis produk/layanan usaha dan kadang-kadang dilengkapi dengan gambar-gambar. Ukurannya bermacam-macam mulai dari sebesar saku sampai sebesar buku telepon, tergantung keperluan bisnisnya.

5. KARTU POS
Publisitas yang bermanfaat, bisa didapat dengan menghadiahkan kepada para pelanggan/konsumen dalam bentuk kartupos (post card) yang menarik. Hal ini sudah umum dilakukan oleh managemen hotel, maskapai penerbangan, dan cafe-cafe. Biasanya konsumen menyukainya dan bahkan banyak yang mengkoleksinya.

6. ALAT TULIS MENULIS
Amplop, kop surat, ballpoint, yang ditempatkan di kamar hotel, yang berfungsi bukan hanya sebagai service dari hotel tersebut tetapi termasuk POS materials, karena terdapat nama produk atau jasa lengkap dengan alamat dan nomor telepon.

7. SISIPAN (STUFLER)
Leaflet yang disisipkan atau ditempatkan di dalam kotak kemasan suatu produk, yang biasanya berupa penjelasan penggunaan produk tersebut, atau produk-produk lain yang diproduksi oleh perusahaan yang sama.

8. HANGING MOBILE
Sebuah alat pajangan yang bergerak apabila terkena angin, penempatannya dengan cara digantung. Biasanya berupa gambar dari produk tersebut atau identitas lain tentang produk tersebut. Bisa dalam bentuk 2 dimensi atau 3 dimensi.

9. WOBLER
Merupakan alat pajangan yang cara penempatannya ditempel dinding atau di rak penjualan dengan menggunakan plastik mica atau bahan sejenis, sehingga gambar menjadi lentur dan bergerak. Biasanya dalam bentuk 2 dimensi.

10. SELF TALKER
Media cetak yang mempromosikan suatu produk dengan cara penempatan langsung di rak tempat produk tersebut berada.

11. FLAG CHAIN
Rangkaian bendera kecil dengan menampilkan gambar produk, merek, slogan, atau gabungan dari semua itu. Bahan yang digunakan bisa dari kertas, plastik, PVC, atau bahan yang sejenis.

12. POSTER
Poster bergambar dan full color biasanya dipakai sebagai dekorasi ruangan untuk ditempel di dinding, pintu, jendela toko, atau dinding ruang pamer.

13. STICKER
Merupakan bahan promosi yang paling banyak dan sering digunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk mempromosikan produknya, karena sifatnya yang sangat fleksibel. Bisa ditempel dimana saja. Dan kadang-kadang sticker mempunyai nilai kebanggaan tersendiri bagi si pemasangnya (konsumen).

14. KOTAK DISPENSER
Mempunyai kaitan dengan leaflet atau brosur, karena dipakai sebagai tempat barang-barang tersebut. Biasanya terbuat dari acrylic, straw board, atau kayu triplek. Bisa juga untuk produk-produk dengan kemasan yang praktis, seperti rokok, permen, dll.

15. MODEL
Model disini lebih cenderung berfungsi sebagai hiasan atau pajangan dan biasanya dalam bentuk miniatur. Biasa digunakan oleh biro-biro perjalanan atau perusahaan penerbangan, misalnya model pesawat terbang atau kapal laut dalam bentuk mini.

16. BENTUK LAINNYA
Jam, asbak, korek, gantungan kunci, kalender, T-Shirt, topi, Payung, dll.

Cara Mendapatkan Klien by Yulius Eka Agung Seputra,ST,MSi



CARA MENDAPATKAN KLIEN
Memiliki perusahaan desain sendiri merupakan cita-cita semua desainer, tapi yang sering menjadi kendala adalah bagaimana mendapatkan klien.

Ada empat cara untuk mendapatkan klien, yaitu:

1. MENGGONDOL KLIEN
Merupakan cara klasik yang sering dilakukan, yaitu seorang desainer dan AE yang sudah cukup lama bekerja di suatu perusahaan desain, dan sudah cukup dekat dengan beberapa klien, yang kemudian menggondol klien tersebut ketika mereka membuka perusahaan desain sendiri. Selain kedekatan pada klien, AE dan desainer tadi memang memiliki reputasi yang baik sehingga klien memang respek.
Karena itulah klien-klien besar biasanya ditangani oleh pemilik perusahaan, dan bila anda telah berhasil memiliki perusahaan desain sendiri hendaknya berbuat hal yang serupa.

2. BERGABUNG DENGAN KLIEN
Disini anda menemukan perusahaan yang membutuhkan pekerjaan kreatif secara teratur, tapi perusahaan ini belum memiliki divisi desain sendiri. Ajaklah perusahaan ini bergabung sehingga perusahaan desain anda menjadi semi-in-house-design dari perusahaannya. Selain menangani perusahaan tersebut, perusahaan desain anda juga bisa menangani klien-klien dari luar.
Ada dua strategi untuk menerapkan cara ini:

A. Yang diajak bergabung adalah perusahaan secara resmi, anda harus rela memberikan saham sekitar 30-50%
B. Bergabung secara pribadi dengan manager yang berwenang, anda cukup memberikan saham sekitar 10-20% dari proyek yang diberikan.
Dibanding dengan cara B, maka cara A dinilai lebih safe.

3. SIDE JOB
Sebelum mendirikan perusahaan sendiri, seorang desainer telah sering mendapatkan side job. Side job biasanya didapat dari rekomendasi dari mulut ke mulut dan sering melakukan promosi diri.
Side Job sebaiknya tidak mengganggu pekerjaan di perusahaan anda bekerja.

4. BERDIRI SENDIRI
Disini anda benar-benar membangun perusahaan dari nol, tanpa klien awal seperti cara-cara sebelumnya. Cara ini jelas paling riskan dan butuh keberanian.

Dari keempat cara tersebut, kunci keberhasilan tetap ada pada kehandalan portfolio anda. Dari portfolio inilah akan terlihat creative skills seorang desainer yang jelas sangat vital, karena creative output merupakan hasil karya akhir dari perusahaan desain.

Selain itu, presentation skills juga harus diperhatikan, karena kini semakin banyak klien yang mengharap perusahaan desain bukan saja merupakan sumber kreatifitas sebatas visual, tapi juga ampuh dalam analisis pasar, misalnya: target audience, pesaing, dsb. Sehingga konsep-konsep yang anda presentasikan akan dapat memikat klien.